November 2011

Jumat, 04 November 2011

Bagaimana Jika Sistem Game Cacat?



(Ist)
Jakarta - Menurut anda bagaimana jika game yang saat ini digemari oleh gamer/masyarakat ada kecacatan dalam sistemnya yang bisa dimanfaatkan user untuk berbuat tidak adil seperti:

Menggunakan/menciptakan program illegal yang dapat mengganggu user lain (biasa disebut cheat) atau menguntungkan diri sendiri dalam game seperti point blank
Pihak penyedia game sepertinya lepas tangan terhadap sistemnya yang cacat atau paling tidak ada transparansi dari pihak developer agar para gamer juga tahu bahwa ada tindakan yang dilakukan dev.

Pertanyaan saya simpel saja, bagaimana tanggapan anda dan bagaimana solusinya?

(Gary Huwae, Pria, 18th)

Jawaban :

Pertama, perlu kita bedakan dua pihak yang terkait game online, yang pertama disebut developer, yang kedua disebut publisher. Developer adalah yang membuat aplikasi game yang bersangkutan, mulai dari desain, art, sampai kode pemrogramannya. Sedangkan publisher adalah yang berperan untuk memasarkan suatu game di suatu negara. Terkadang peran publisher termasuk menerjemahkan game yang bersangkutan, tapi dilakukan oleh tim yang bukan developer gamenya.

Bisa jadi kalau terdapat bug atau glitch yang dimanfaatkan oleh gamer publisher tidak mempunyai kemampuan untuk memperbaiki bug tersebut, karena peran mereka hanya sebatas menerjemahkan dan memasarkan game tersebut. Biasanya untuk bug yang fatal harus menunggu update atau patch dari developer game aslinya.

Dalam lingkungan gaming yang baik, seharusnya gamer jika menemukan bug atau error seharusnya mengabari publisher atau developer yang bersangkutan,jangan justru tidak melaporkannya dan memanfaatkan bug tersebut untuk merugikan orang lain atau menguntungkan diri sendiri. Dan jika menemukan orang yang menggunakan cheat sebaiknya dilaporkan juga untuk menjaga komunitas tetap bersih dari cheat.




( jsn / jsn )
Sumber  www.detikinet.com

fenomena tweet berbayar

Beberapa waktu lalu saya sempat membuat status di twitter yang secara tidak di sengaja berisi mengenai sedikit promosi. Setelah saya pasang status tersebut beberapa menit kemudian, saya mendapat respon/balasan dari salah seorang teman saya, dan bilang seperti ini ” wah tweet berbayar“… kemudian secara langsung saya mencoba cek kembali ke timeline, saya coba baca kembali dari awal dan akhir dan setelah satu per satu saya baca ternyata tweet tersebut berbau promosi #doh.
Memang sebelumnya saya sudah pernah dengar mengenai tweet berbayar tapi kurang begitu merespon soal itu. Saya masih berfikir ahh masak iya sih buat status yang berbau promo itu selalu mengandung unsur berbayar, padahal bisa jadi itu karena kita suka dengan produk tersebut atau tempat yang kita kunjungi membuat nyaman di kita dan akhirnya kita memposting sesuatu dan berkomentar di timeline mengenai hal itu. Secara tidak langsung faktor tersebut yang membuat saya tetap PD saja dengan secara tidak sengaja memposting status yang niat awalnya adalah “review” tapi berujung promo.
Setelah ada yang bilang kalau itu adalah termasuk tweet berbayar, kemudian saya langsung pada saat itu juga mencari info mengenai tweet berbayar.  Pertama yang saya lakukan adalah tanya ke om Google, dan ternyata sudah banyak yang membahas mengenai kasus tweet berbayar tersebut, tinjauan selanjutnya tanya pada teman-teman saya mengenai tweet berbayar itu seperti apa. Dan jawaban dari hasil survey googling+survey secara langsung, kebanyakan menyebutkan bahwa tweet berbayar kurang begitu di respon baik oleh followers.
Lagi lagi sosial media twitter yang menjadi alat untuk berkomunikasi via online ini bisa berujung merusak citra diri sendiri maupun citra dari orang/brand lain. Banyak sekali informasi mengenai tweet berbayar. Ada beberapa artis di dalam maupun luar negeri yang menjadikan twitternya sebagai ladang penghasilan, biasanya ini dinamakan denga paid to twit.  Artis-artis hollywood seperti Nicole Richie, Kim Kardashian, Whitney Port dan Audrina Patridge yang menurut artikel yang sempat saya baca disini mereka dibayar hingga $10,000 / tweet oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Sony dan Nestle. Ada juga artis lokal yang di bayar per 1 kali tweet sampai dengan 8 juta rupiah, wow sangat mengejutkan. Itu baru 1x twit bagaimana kalau 2, 3, 4 dan seterusnya, sungguh tak terbayangkan :)).
Apa sih yang membuat tweet berbayar nantinya lebih cenderung ke negatif daripada hal positifnya? Nah, selanjutnya di bawah ini akan saya ulas mengenai tweet berbayar tersebut. Pertama twit berbayar akan menjadi bermanfaat buat kita maupun follower. Ketika dari tweet tersebut akan menghasikan sesuatu misalnya seperti paid to twit yang saya sebutkan di atas, jadi orang di suruh ngetwit tentang sebuah perusahaan dan akan membayar ke kita yang di suruh untuk mempublikasikannya lewat twitter dan kita akan sedikit mendapatkan penghasilan, dan dari sisi followernya bisa jadi itu bahan informasi terbaru buat mereka. Semua itu belum berdampak besar ketika hanya 1 atau 2x twit saja, ini tidak akan berpengaruh apa-apa, follower juga pasti perhatiannya tidak begitu besar.
Nah, yang kedua jika si buzz agent (sebutan untuk orang yang melakukan tweet berbayar) melakukan beberapa twit yang berisi promo dengan berulang kali, maksudnya dia mempromosikan secara terus menerus sebuah brand yang telah menjadikannya sebagai buzz agent. Kira-kira apa yang akan terjadi dari si buzz agent seperti ini? secara tidak langsung beberapa follower yang kebetulan mengikuti timeline nya tersebut, akan merasa jenuh dengan beberapa twit yang di publikasikan, dia (follower) akan berfikir seperti ini “Nah, kenapa artis ini kok promo terus ya, padahal niat gua kan mau ngikutin kegiatan sehari-harinya, bukan ngikutin apa yang akan di promosikannya” #jleb sadar atau tidak follower yang seharusnya akan di cap menjadi followernya si artis seumur hidup :D  sudah merasa tidak nyaman lagi dengan artis tersebut. Bisa-bisa unfollow deh… :(( ingat follower adalah raja :D
Itu dari sisi followernya, nah sekarang dari sisi brand yang di promosikannya. Ketika si buzz agent ngetwit tentang suatu brand secara berulang kali, maka follower juga akan berfikir yang gak baik dengan brand tersebut. contohnya saja ada follower yang ngomong seperti ini “Beuh apa-apaan nih artis sabun mandi kok di suruh mempromosikan oli motor emang di bayar berapa sih nih artis” #jleb, langsung keduanya mendapat respon kurang baik dari follower. Sekali lagi ingat follower adalah raja :D
Dari contoh studi kasus diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa sebuah brand harus cermat memilih buzz agent yang sesuai dengan produk yang mereka tawarkan, dan juga untuk si buzz agent sendiri harus benar-benar memperhitungkan mengenai twit-twit berbayarnya tersebut agar follower nya merasa nyaman dan tetap bersamanya :D . Ok mungkin itu sharing kali ini dari saya mengenai tweet berbayar, semoga bermanfaat buat temen2 semua, makasih :D

Sumber vahrur.blogdetik.com

Usung 2 Tablet, Lenovo Incar Pengguna Rumahan & Pebisnis



Tablet ThinkPad (Ist.)
Jakarta - Lenovo akhirnya merilis dua tablet perdana mereka di Indonesia. Satu membidik pengguna rumahan, satu lagi untuk kalangan pebisnis.
Tablet besutan Lenovo sejatinya sudah menampakkan diri sejak beberapa bulan lalu, tepatnya pada perhelatan Consumer Electronic Show 2011, di Las Vegas Januari 2011. Namun baru sekarang produk tersebut mulai dipasarkan di Indonesia.

Lenovo IdeaPad K1, merupakan tablet PC Android 10 inch yang hadir dengan beragam pilihan warna. Produk ini dibekali dengan sistem operasi Android Honeycomb 3.1.

"Berbeda dengan kebanyakan vendor lain yang masih memakai Android 3.0, kami sudah menggunakan versi yang lebih baru yakni 3.1," Chung Chen, Product and Business Development Manager Lenovo Indonesia.

Selain itu produk ini juga mengedepankan soal ukurannya yang hanya 0,75 kg, Prosesor Nvidia Tegra 2, 40 aplikasi bawaan, hingga konektivitas internet melalui 3G.

"Yang sempat muncul dulu itu adalah versi WiFi, sengaja kami skip dan langsung merilis yang versi 3G," tambah Chung Chen, usai memperkenalkan Ideapad K1 kepada media.

Selain itu, Lenovo juga memiliki ThinkPad Tablet, yakni tablet PC yang membidik kalangan pebisnis. Sesuai dengan pangsa pasarnya, produk ini ditopang dengan beragam fitur penunjang produktivitas.

Produk ini memiliki stylus pen, port USB, slot SD Card, hingga port mini HDMI yang bisa dihubungkan ke proyektor tanpa bantuan dongle khusus. Produk ini juga dijual dengan asesoris tambahan berupa keyboard khas ThinkPad lengkap dengan optical track point.

"Kami bisa bilang bahwa, hanya Lenovo yang menghadirkan 2 tablet dengan pangsa pasar yang berbeda," tambah Sandy Lumy, Country General Manager Lenovo Indonesia, di sela acara Indocomtech yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Rabu (2/11/2011).

Khusus untuk pameran Indocomtech 2011, IdeaPad K1 diberi potongan harga sebesar Rp 1 juta dari harga normal senilai Rp 5,2 juta. Promo tersebut berlaku untuk 100 pembeli pertama. Sementara ThinkPad Tablet dijual mulai harga USD 799, keduanya sudah termasuk paket data selama 6 bulan dari Telkomsel.



( eno / ash )
Sumber www.detikinet.com

nLighten Multi Touch, Meja Layar Sentuh ala James Bond



nLighten Multi Touch (fyk/inet)
Jakarta - Meja yang satu ini memang bukan meja biasa, melainkan sebuah komputer layar sentuh. Permukaannya didominasi layar kapasitif ekstra lebar yang bisa dioperasikan cukup dengan sapuan tangan, mirip dengan komputer yang pernah tampil di film mata-mata Inggris, James Bond.
Produk besutan nLighten, perusahaan asal Taiwan ini, turut dipamerkan di ajang Indocomtech yang berlangsung di di Jakarta Convention Center, 2-6 November 201. Keunikannya membuat beberapa pengunjung menyempatkan diri untuk mencobanya.

nLighten Multi Touch yang didemokan memakai sistem operasi Windows 7. Pada dasarnya, perangkat ini lebih ditujukan untuk menampilkan gambar dan video serta berselancar di internet.

Ketika dicoba, layarnya cukup responsif. Pengguna bisa memperlebar dan memperkecil gambar, serta memindahkannya ke bagian layar yang lain dengan mudah.

Target pasarnya sendiri adalah kalangan korporat. Sehingga tidak heran jika harganya dipatok mencapai USD 18 ribu atau sekitar Rp 161 juta ($1 = Rp 8.973).

"Produk ini baru saja mulai kami pasarkan di Indonesia. Kegunaannya misalnya untuk presentasi di perusahaan," kata Lina dari Global Master Technology yang memasarkan perangkat tersebut.

Versi yang lebih besar bisa dipasang di tembok. Perangkat yang kira-kira ukurannya 60 inch tersebut juga bisa dioperasikan dengan sentuhan. Gunanya selain untuk persentasi juga bisa untuk menampilkan iklan. Harganya dipatok USD 80 ribu.




( fyk / ash )
Sumber www.detikinet.com

Mencoba 'Tembok' Layar Sentuh



\'Tembok\' layar sentuh (fyk/inet)
Jakarta - Salah satu perangkat yang menarik perhatian di ajang Indocomteh 2011 adalah meja dan 'tembok' layar sentuh yang dibuat oleh perusahaan nLighten asal Taiwan. Ya, permukaan perangkat tersebut berupa layar sentuh super besar yang bisa dioperasikan dengan sapuan jari.
Tembok layar sentuh tersebut pada dasarnya adalah monitor yang luas. Kegunaannya yang utama adalah menampilkan gambar atau video untuk presentasi atau menampilkan iklan. Pengguna bisa menggeser gambar dengan mudah, memperbesar atau memperkecil layarnya.

Menurut Global Master Technology selaku distributornya, sasaran produk ini adalah kalangan korporat sehingga tidak mengherankan harganya pun mahal, di kisaran puluhan ribu dollar. Simak foto-foto berikut yang menunjukkan kebolehan perangkat tersebut:

Berikut meja layar sentuh mult touch dari nLighten. Harganya berkisar USD 18 ribu.

Pengoperasiannya cukup dengan sentuhan jari.

Layar sentuh super besar dipasang di tembok. Pengguna bisa melakukan berbagai fungsi seperti mencoretnya.

Gambar yang tampil terlihat cukup jernih.

Gambar dan video bisa dipindah-pindah atau diperbesar dengan mudah.


( fyk / ash )
sumber www.detikinet.com

Peran Jejaring Sosial di Revolusi 2.0



Ilustrasi (Ist.)
Jakarta - 14 Januari 2011 pukul 11.18 siang, salah satu post dari ratusan juta post di Facebook setiap harinya bertuliskan "Pesan untuk Penduduk Mesir: Mari jadikan tanggal 25 Januari mendatang sebagai Obor Perubahan di Mesir".

Pesan di atas, yang ditulis dalam bahasa Arab, dianggap sebagai pemicu awal pergerakan sosial yang berujung pada revolusi Mesir dan tumbangnya Presiden yang sudah berkuasa selama 30 tahun, Husni Mubarak.

Facebook merupakan situs terpopuler kedua di Mesir dengan 5 juta pengguna. Saat itu mayoritas penduduk, terutama kaum menengah, sudah jengah dengan korupsi di pemerintahan, penyalahgunaan kekuasaan, ketimpangan kesempatan ekonomi dan pemusatan ekonomi di kalangan elit.

Tagar #Jan25, dimulai sejak 15 Januari, begitu populer dan menjadi penanda demonstrasi berkepanjangan dan terkonsentrasi di Tahrir Square.

Revolusi Facebook, Revolusi Twitter. Faktor sosial, ekonomi, budaya dan politik merupakan pendorong utama revolusi ini, dimana peran jejaring sosial, sebagai media, dengan 'viral effect' yang dimilikinya, berhasil menumbangkan rezim Mubarak. Dunia terkejut. Revolusi berlanjut ke negara Arab lainnya. Timur Tengah pun bergejolak.

Dua hari sesudah pesan tersebut dikirim, pemerintah Mesir yang mengontrol ketat media massa konvensional, mulai mengambil tindakan. Layanan internet dan selular pun ditutup menggunakan teknologi yang dibeli dari Narus, sebuah perusahaan asal Amerika Serikat. Rakyat mencari alternatif koneksi. Modem dial up dan proxy server kembali marak digunakan.

Obama dan Kampanye Onlinenya

Menurut Webster Online Dictionary, gerakan sosial merupakan salah satu jenis aktivitas kelompok. Kelompok informal yang terdiri dari individu dan atau organisasi dengan fokus kepada masalah sosial ataupun politik tertentu, membuat perubahan sosial atau politik tertentu untuk kepentingan masyarakat banyak.

Pergerakan sosial sudah dimulai sejak ratusan tahun lampau. Bedanya adalah jika dahulu lebih banyak menggunakan media massa, baik cetak dan elektronik seperti koran, radio serta televisi, maupun media umum yang sederhana (pamflet, flyer) saat ini media internet terutama jejaring sosial, menjadi platform yang populer.

Kemampuannya menjangkau lebih banyak audiens, real time, melintasi batas ruang dan waktu, efek domino yang dashyat serta interaktivitasnya yang tinggi disadari berbagai kalangan.

Protes terhadap pemilihan umum di Iran, dua tahun lalu, dikenal dengan Pemberontakan Twitter, menunjukkan bagaimana jejaring sosial membuat mobilisasi dan demonstrasi massa lebih mudah terjadi. Penduduk Iran dengan lantang menyuarakan aspirasinya atas pemilihan Mahmoud Ahmadinejad melalui Twitter dan Facebook.

Wacana peran internet dalam mobilisasi massa mulai mengemuka sejak penggunaan media tersebut secara intens dalam kampanye pemilihan presiden yang dilakukan oleh Barack Obama dan timnya tiga tahun lalu.

Program kampanye tersebut merupakan program kampanye politik pertama yang memaksimalkan penggunaan jejaring sosial dan dipimpin oleh David Plouffe selaku Manajer Kampanye dan Thomas Gensemer, tokoh kunci strategi Internet Obama.

Sistemiknya pengunaan internet, pesan singkat serta media komunikasi elektronik lainnya bertujuan untuk membuat jaringan relawan dan koordinator di tingkat akar rumput yang penuh komitmen dan militan. Hasilnya? 2 juta relawan dan koordinator, 200.000 acara, 35.000 grup, 400.000 blog.

Dana kampanye terkumpul sebesar 30 juta dolar dari 70.000 donatur pribadi. Peran internet sebatas media koordinasi dan kolaborasi, dengan tetap melibatkan dan memberdayakan relawan dan koordinator dalam acara dan program kampanye mereka.

Slacktivism

Ada istilah ekstrim 'slacktivism', yang diperkenalkan oleh pakar jejaring sosial ternama, Evgeny Morozov. Istilah ini memberikan gambaran bahwa perubahan sosial atau politik bisa terjadi cukup dengan melakukan aktivitas online saja. Sebagai contoh cukup bergabung dengan salah satu Grup di Facebook.

Aktivisme jenis ini cocok untuk 'generasi pemalas' yang memiliki pemikiran bahwa mobilisasi di dunia maya dapat memberikan kontribusi yang sama besar dibandingkan dengan aktivisme fisik, dimana mereka juga akan terhindar dari resiko terluka, meninggal, diculik, brutalnya massa sampai ke penyiksaan yang sangat mungkin terjadi pada aksi massa terutama untuk demonstrasi politik.

Mengambil contoh revolusi di Mesir, para demonstran memanfaatkan album foto maupun wall Facebook serta Twitter untuk melaporkan dan memperlihatkan foto atas aksi yang terjadi. Rakyat yang memprotes, bentrok dengan polisi, ketegangan yang ditimbulkan, suasana tawa dan duka. Sementara tagar #Jan25, muncul satu hari setelah pesan di Facebook tersebut muncul, oleh akun wanita berusia 21 tahun, @alya1989262.

Twitter menjadi mata, telinga dan suara atas apa yang sebenarnya terjadi dan reaksi publik terhadapnya. Para demonstran bermodalkan ponsel cerdas seakan berlomba-lomba ingin menyampaikan kejadian yang mereka alami tersebut ke seluruh dunia. Tujuan utamanya adalah memperoleh dukungan dari rakyat Mesir lainnya dan dukungan diwujudkan dengan aksi serupa.

Sebelum revolusi Mesir terjadi, awal tahun lalu, Januari silam, rezim Zine El-Abidine Ben Ali yang telah berkuasa selama 23 tahun, juga terjungkal. Kejatuhan kekuasaan tiran di Tunisia yang diawali dengan aksi demonstrasi kurang lebih satu bulan lamanya, juga diawali dengan perlawanan melalui Facebook dan Twitter.

Media massa 'mainstream', surat kabar, radio maupun televisi serta jejaring sosial lain seperti YouTube diblokir serta aktivitas informasi di internet diawasi dengan ketat.

Ali, nama samaran salah seorang aktivis militan, dalam sebuah wawancara menyatakan dia menghabiskan 18 jam waktunya setiap hari di depan komputer untuk menggunakan Facebook.

Dia memimpin SBZ News, sebuah tim dengan 15 aktivis dunia maya, yang mengumpulkan informasi, foto dan video dari berbagai sumber di Tunisia dan menyebarluaskannya di Facebook dan Twitter.

Semua fitur yang ada di kedua jejaring sosial tersebut dimanfaatkan oleh para aktivis untuk berbagi informasi, merancang dan menyerbaluaskan agenda aksi serta mengkoordinasikan aksi demonstrasi.

Setelah revolusi di Tunisia menular di Mesir, pemerintah China menutup semua informasi tentang pergolakan di Negeri Sungai Nil itu agar tidak memicu para aktivis pro demokrasi di China melakukan  yang sama.

Di dalam negeri, Gerakan Sejuta Facebooker dalam menggalang dukungan terhadap Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto bulan Oktober dua tahun lalu yang dinonaktifkan karena diduga menyalahgunakan wewenang cukup memberikan tekanan publik kepada pihak berwajib dan memiliki peran penting sehingga keduanya terbebas dari tudingan menerima suap.

Masih ada beberapa gerakan pengguna Facebook lokal lainnya, mulai dari Gerakan 1 juta facebooker dukung Hendri Mulyadi sebagai Pahlawan Nasional, Gerakan 1.000.000 Facebooker tolak UN sampai gerakan Gerakan Semiliar Facebooker Menolak Pelarangan Jilbab dan Cadar.

Berani Karena Jejaring Sosial

Dari beberapa kejadian di atas, bisa disimpulkan bahwa jejaring sosial yang ada membuat para penggunanya menjadi 'lebih berani' dalam menyatakan pendapat dan menyuarakan aspirasinya terutama jika hal menjadi perhatian mereka terlepas bahwa aspirasi dan opini merupakan opini individual maupun perilaku kolektif.

Kolaborasi antara media massa konvensional dengan jejaring sosial, maupun jejaring sosial itu sendiri, apabila media massa konvensional sudah kehilangan kepercayaan publik maupun diawasi secara ketat/diblokir, sudah terbukti merupakan medium yang ampuh untuk melakukan aktivisme digital (cyberactivism), selain email dan situs web.

Revolusi Industri, Perancis sampai dengan Revolusi Bolsheviks serta revolusi lainnya memang terjadi sebelum jejaring sosial ditemukan. Teknologi semata tidak akan memicu revolusi. Jumlah pengguna internet di dunia sudah mencapai 2,5 miliar pengguna, dari total 6,5 miliar penduduk Bumi dimana hampir 1 miliar di antaranya memiliki akun jejaring sosial.

Pertumbuhan pengguna internet begitu pesat yaitu 3 digit (hampir 500 persen) dalam 10 tahun terakhir, terutama di benua Afrika dan kawasan Timur Tengah dengan tingkat pertumbuhan yang menakjubkan, 4 digit. Saat ini 12 persen (120 juta) penduduk di Afrika dan 30 persen (70 juta) penduduk di Timur Tengah sudah memiliki akses internet.

Statistik ini secara tidak langsung meningkatkan 'posisi tawar' jejaring sosial dalam menyuarakan opini dan aspirasi penggunanya atas perubahan sosial, pergerakan sosial maupun menggalang 'people power'.

Ikatan sosial dan hubungan yang kuat antara kaum yang tertindas merupakan faktor utamanya. Dan jejaring sosial memfasilitasi ikatan sosial dan hubungan yang ada di dunia nyata maupun dunia maya menjadi kuat atau bahkan lebih kuat.
Sumber www.detikinet.com